Minggu, 03 Juli 2016

TEBING KERATON DAN DUSUN BAMBU, BANDUNG

Sabtu - Minggu, 16 - 17 Mei 2015


Ada dua tanggal merah berderet di kalender, wah udah pasti gw dan temen-temen tidak akan melewatkan kesempatan ini. Kami pun merencanakan untuk pergi ke Bandung mengunjungi tempat wisata yang sedang hits yaitu Tebing Keraton, tepatnya di wilayah Dago Bandung.
Kami berangkat berduabelas orang (Deni, Oki, Deky, Sandra, Rahma, Anggi, Harry, Bari, Diah, Syifa, Nene dan gw sendiri) dengan menggunakan dua mobil milik Bari dan Deky. Tujuan pertama kami adalah berendam air panas ke sariater (sebenernya sih ini nurutin Deni, ni anak klo ke Bandung minta berendem mulu). Kami berangkat dari Jakarta hari Jumat sekitar pukul 12 malam dan sampai ke pemandian sekitar pukul 3 pagi. Tiket masuk untuk ke pemandian Rp 14.000 perorang, kami segera berganti kostum dan berendem mengendurkan saraf-saraf yang tegang.
Hanya sekitar satu jam kami berendem karena waktu menjelang subuh, biasanya pengunjung berdatangan selepas subuh dan untuk mencegah antrian di kamar mandi kami bergegas bersih-bersih dan berganti pakaian. Selesai sholat subuh kami yang cewek-cewek tidur sejenak di musola karena tidak tidur semalaman. Kami terbangun karena suara ramai ternyata para pengunjung sudah banyak berdatangan, kami pun berkemas dan menuju parkiran untuk melanjutkan perjalanan. Dan ternyata kami mendapati cowok-cowok sedang terleap tidur di mobil.


cowok -cowok tepar abis berendem

yang cewek foto-foto dulu
Destinasi kedua kami adalah ke tempat peneropongan bintang Bosch d Lembang. Inget Boscha jadi inget film Petualangan Sherina jaman SD dulu, pertama kali nonton di bioskop Pamulang 21 dengan antrian yang sangat panjang (sekarang bioskopnya udah wassalam!). Mobil Deky yang disetir oleh sang sopir angkot Deni melaju kencang meninggalkan mobil Bari di belakang. Aku yang berada di mobil Bari menyadari bahwa kami salah arah alias nyasar. Kami tertinggal dan sibuk mencari jalan yang benar kemudian Deni pun menelepon.

Deni : Lo dimana?
Gw : Nyasar nih, lo nyetirnya pelan-pelan napa
Deni : Gw udah sampe Boscha nih, tutup soalnya Hari Libur Nasional
Gw : Yaaahhhh.... trus gimana donk
Deni : Langsung ke Dusun Bambu aja

Tempat Peneropongan Boscha dibuka Selasa - Jumat pukul 09.00 - 14.30 dengan terlebih dahulu mendaftar melalui website dan khusus kunjungan Instansi/Sekolah/Organisasi sedangkan untuk kunjungan secara umum perorangan di Hari Sabtu pukul 09.00 - 13.00. Namun karena kami datang di hari Sabtu di tanggal merah sehingga Boscha tutup.
Akhirnya karena kecewa kami menuju destinasi selanjutnya yaitu Dusun Bambu. Dusun Bambu adalah suatu tempat wisata dimana untuk menuju kesana kita harus naik mobil/kereta khusus dari tempat parkiran. Disana terdapat kebun berisi bunga-bunga, kemudian ada danau dan restaurant. Yang paling unik adalah restauran di dalam bulatan ranting pohon. Dengan berjalan di jembatan panjang kita akan sampai ke ruangan-ruangan dalam kaca berlatar ranting-ranting pohon. Kami tidak mencoba makan disana karena berpikir pasti bagus tempatnya doank tapi makanannya biasa aja Ha..Ha..Ha.. padahal sih karena ngirit. Akhirnya kita foto-foto dan bikin video aja sampe capek dan malu.


naik mobil kereta 1 mobil langsung penuh sama kita
kalau mau ke tengah danau sewa perahu

groufie time!

siapa ya yang mau bayarin gw makan di resto ranting itu



Hari telah siang, kaki sudah capek dan perut sudah lapar. Deni pun mengajak kami untuk makan siang di daerah Punclut. Jalan ke Punclut penuh dengan tanjakan-tanjakan yang membuat mobil-mobil Deky dan Bari merintih. Kami yang di dalam mobil Grand Livina mereka waswas karena mobil gak kuat nanjak. Harry dan Oki beberapa kali turun mencari batu untuk mengganjal ban mobil agar tidak meluncur mundur.


Akhirnya sampai di tempat makan Teh Ita dengan menu ayam, bebek, sate ampela, tahu, tempe dibakar atau digoreng. Kami makan lesehan dengan view pemandanga Bandung dari atas. Udaranya dingin dan segar. Kalau malam akan indah nampak kerlap kerlip lampu Kota Bandung. Selesai makan, sholat dan ke toilet kami pun menuju destinasi utama kami yaitu Tebing Keraton.

TEBING KERATON


Tebing Keraton adalah suatu tempat wisata di daerah Dago Pakar, Bandung. Lokasinya tidak jauh dari Tahura Jl. Ir. Juanda (Taman Hutan Raya yang berisi pohon-pohon pinus). Nama Tebing Keraton asalnya dari cerita mistis yang beredar di masyarakat setempat. Awalnya nama tempat ini dikenal dengan Cadas Jontor karena ada bebatuan yang menjorok di tepi tebing. Namun karena beberapa kali ada yang kesurupan penunggu disana meminta tempat tersebut diganti namanya menjadi Tebing Keraton karena merupakan lokasi keraton gaib makhluk halus di bukit tersebut. Ada juga yang menyebut bahwa nama Tebing Keraton asalnya dari nama Tebing Karaton yang artinya kemewahan, kemegahan dan keindahan alam. Tebing Keraton berada pada ketinggian sekitar 1200 mdpl berada di Kampung Ciharegem Desa Ciburial. Perjalanan menuju Tebing Keraton terus naik ke atas tidak jauh setelah melewati Tahura. Mobil tidak bisa naik sampai ke atas lokasi tapi harus diparkir di bawah (Rp 10.000 per mobil), kalau kesana naik motor bisa sampai atas (Rp 5000 per motor). Dari tempat parkir kita bisa naik ojek atau berjalan kaki. Kami memilih berjalan kaki, biar kerasa perjuangannya (halah...padahal karena irit)
Jarak dari parkiran ke tebing keraton kurang lebih 3 kilometer dengan medan aspal menanjak dan mendatar yang cukup menguras tenaga. Sesekali kami beristirahat dan minum untuk mengatur nafas. Perjalanan memakan waktu sekitar sejam dan harga tiket masuk dibagi 2 : wisatawan domestik Rp 11.000 sedangkan wisatawan mancanegara Rp 76.000 (jauuuuh banget ya bedanya hampir 7x lipat).


Sore itu pengunjung ramai sekali karena long weekend sehingga sulit memperoleh foto tanpa zonk. Tepi tebing diberi pagar pembatas agar aman, kata seorang teman dulu ketika dia kesana belum dipagar. Tempat ini tidak cocok untuk keluarga yang membawa anak kecil karena lokasinya berbahaya jika kurang pengawasan dapat berakibat fatal. Tapi biarpun sudah dipagar banyak yang menerobos pagar turun ke bawah mencari spot paling ciamik dan clear seperti teman-teman saya ini.




diah dan bari
Anggi udung-udung pose pu*


pada ngapain disitu?

Hari semakin sore pukul 17.00 kami beranjak turun karena takut gelap. Seperti biasa Nene dan Syifa selalu paling lama dan ketinggalan.Kami menunggu di pintu keluar agar bisa turun bersama-sama. Suweeeee..... udah lama-lama nungguin itu anak ternyata malah mau naik ojek. Kami pun turun duluan berjalan kaki menikmati pemandangan dan bersenda gurau. Tak berapa lama ditengah jalan lewatlah mereka bertiga sama Deni udah kaya terong dicabein naik motor. Motornya tukang ojek Deni yang bawa, Nene sama Syifa dibonceng. Dibelakangnya tukang ojeknya berdua boncengan menyusul. Kami sampai di bawah menjelang maghrib dan segera menuju ke penginapan di daerah Dago.
Villa yang kami sewa masih di daerah Dago dan lokasi di pinggir jalan persis. Namanya De Nuansa Dago Villa dengan rate ketika long weekend saat itu Rp 1.300.000. Terdiri dari 3 kamar tidur dan 2 kamar mandi. Satu kamar yang besar untuk para cewek dan 2 kamar untuk cowok. Si Oki gak kebagian tempat tidur di sofa ruang tengah.




dendong pamer perut
Sementara cewek-cewek mandi, cowok-cowok langsung tidur dan susah untuk dibangunin. Deni yang menjanjikan nongkrong malam di Braga sudah terlelap tidur, hanyalah tinggal kenangan karena kami cewek-cewek gak ada yang bisa bawa mobil :( Sampai jam 8 malam mereka belum bangun juga dan kami cewek-cewek kelaparan akhinya memutuskan makan di sekitar villa saja.


Keesokan paginya kami berkemas dan menuju kota Bandung untuk mencari sarapan dan membeli oleh-oleh. Banyak sekali jajanan di sepanjang jalan sekitar Taman Lansia yang membuat kami lapar mata. Ada batagor, cilok, somay, cuanki, surabi, seblak dll. Selesai sarapan kami mampir ke Factory Outlet dan Primarasa untuk membeli oleh-oleh.




Hari sudah siang kami bersiap untuk pulang ke Jakarta lewat Purwakarta karena akan makan siang Sate Maranggi disana. Sate Maranggi Purwakarta sudah terkenal enaknya dan selalu ramai. Harga seporsi sate Rp 35.000 - Rp 40.000 penyajiannya pun cepat. Ini kali kedua gw makan disana.


Akhirnya kami tiba di Jakarta jam 8 malam dan berpisah ke rumah masing-masing. Walaupun tempat yang dikunjungi tidak sesuai rencana tapi perjalanan cukup menyenangkan dan destinasi utama Tebing Keraton sudah kami kunjungi.

2 komentar: