Senin, 04 Juli 2016

CURUG MALELA, BANDUNG

Sabtu - Minggu, 23 - 24 Mei 2015


Sehari setelah perjalanan gw ke Tebing Keraton, ajakan untuk ke Bandung datang lagi dari teman dan mantan boss gw yang kini berada dalam satu cabang.
 
Nana : (bbm) Kak Boc, ikut ke curug malela yuk!
Gw : Kapan Na?
Nana : Sabtu ini, pulang kerja berangkat sama Pak Ridho juga
Gw : Siapa aja yang ikut?
Nana : Sama Irfan, trus Deky juga katanya mau ikut
 
Waaahh.....udah dari lama sebenernya gw pengen kesana, pernah Siska dan Nene bilang nanti kapan-kapan kesana tapi belum terealisasi juga. Gw pun langsung ngeline Deky menanyakan keikutsertaannya soalnya gak enak kalo cuma gw yang dari cabang lain.
 
Gw : Lo ikut gak Dek?
Deky : Gw ikut
Gw : Bener ya kalo lo ikut gw ikut, kalo lo gak ikut gw gak ikut hahaha
Deky : Iya
 
Sempet bimbang juga soalnya minggu lalu abis jalan masa minggu ini jalan lagi, maklum pasca sakit keras agak takut kecapekan. Tapi karena berpikir belum tentu ada temen ngajak kesana lagi jadi gw memutuskan untuk berangkat. Sabtu siang sepulang kerja gw janjian sama Nana di Tangcity Mall, gak siang juga sih sekitar jam 3 sore gw baru menemui mereka bertiga (Nana, Pak Ridho dan Irfan) sedang asik makan hokben mengisi perut. Karena takut kesorean gw ngebungkus hokben untuk makan di mobil. Dari Tangerang kemudian kami menjemput Deky dulu di Bekasi.
Perjalanan dari Jakarta ke Bandung berjalan lancar dengan lebih dulu Deky yang mengambil alih kemudi karena kalau sudah gelap penglihatannya rada kabur/rabun. Menjelang malam baru gantian Pak Ridho yang menyetir menuju Cimahi mengikut rute yang diarahkan Nana. Sampa di daerah Cililin kami terjebak macet parah karena ada acara pesantren yang memakai lahan jalan raya. Perut melilit kelaparan sudah minta diisi. Gw sama Nana turun sebentar beli nasi goreng di pinggir jalan untuk makan malam di mobil. Mobil dipinggirkan dan kami segera melahap habis nasi goreng yang masih panas. Selesai makan perjalanan dilanjutkan menuju Gunung Halu. Hari sudah gelap dan jalan yang dilalui semakin mencekam. Kanan kiri jalan hutan-hutan diselingi beberapa rumah, sempat juga kami harus putar balik karena salah arah.
 
"Itu ada musola mending sholat dulu biar dikasih petunjuk jalan yang benar." ajak Pak Ridho. Lalu kami pun mampir untuk sholat dan ke toilet.
 
Perjalanan kami sudah cukup lama namun belum juga menemukan patokan yang diberikan oleh Nana yaitu ketemu BRI Cicadas belok kanan. Nana menghubungi bapak pemilik rumah tempat kami menginap dan ternyata kami salah jalan lagi.
Akhirnya sekitar jam 9 malam kami sampai di rumah penduduk tempat kami menginap. Ruang atas terdiri dari 2 kamar tidur untuk kami beristirahat sedangkan pemilik rumah di bawahnya. Gw pastinya tidur sama Nana, Deky dengan Irfan dan Pak Ridho memilih tidur di depan TV. Sebelum tidur kami disuguhi teh hangat, pisang goreng dan cemilan kerupuk gurilem (yang doyan maicih pasti tau gurilem itu kayak apa, tapi ini yang gak pedes produksi langsung dari pabrik katanya)
Bapak pemilik rumah mengajak ngobrol bahwa perjalanan ke Curug Malela akan melalui medan yang sangat berat, jalanan rusak parah dan mobil tidak bisa sampai kesana. Transportasi kesana hanya dengan naik ojek (jalan kaki bisa gempor!). Tarif ojek untuk pulang pergi Rp 100.000 perorang.

ready to go!

Sekitar jam 7 pagi kami berangkat menuju Curug Malela dengan mengendarai lima buah ojek melewati jalan berbatu naik turun hancur sekali. Harus berpegangan kencang dan menjaga keseimbangan agar tidak terpental dari motor. Jika kesini jangan memaksakan membawa mobil karena sayang bisa rusak. Berbeda dengan yang suka touring justru disini adalah medan yang cocok untuk memacu adrenalin. Menurut tukang ojek yang gw tumpangi, Bapak Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf pernah berkunjung ke Curug Malela dengan motor besarnya dan menjanjikan untuk memperbaiki jalan akses kesana.

Satu jam perjalanan yang membuat pantat pegal akhirnya kami sampai di pintu masuk Curug Malela. Para tukang ojek memarkir kendaraannya dan kami beristirahat sejenak di warung-warung makanan dan es kelapa. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju air terjun yang disebut Niagara Mini tersebut. Pertama-tama kami menuruni tangga-tangga lalu menyebrang sungai kecil baru kemudian jalan tanah. Sejam berjalan kami mendengar suara gemericik air berjatuhan ke atas batu. Wah sudah dekat! Hari masih pagi dan belum ada pengunjung selain kami.

 

curug malela dari kejauhan
 


Curug Malela merupakan kumpulan beberapa air terjun yang tidak terlalu tinggi (sekitar 60-70 meter) namun melebar (sekitar 50 meter), seperti air terjun Niagara namun berukuran supermini. Terletak di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga-Gunung Halu, Bandung Barat. Di sekelilingnya banyak bebatuan besar dengan debit air yang cukup deras karena dekat dengan hulu sungai. Mengenai asal mula nama Malela menurut penduduk sekitar berasal dari nama Eyang Tadjimalela 'penguasa' kawasan tersebut. Menurut cerita bapak pemilik rumah tempat kami menginap, peristiwa air bah malela yang memakan banyak korban tidak lepas dari cerita mistis bahwa sehari sebelum peristiwa terjadi ada pertanda penampakan di sekitar curug dan sebelum musibah terjadi terdengar ledakan batu di dalam air. Mengenai kebenarannya gw juga kurang tau sih tapi intinya kalau mau ke tengah-tengah atau mendekati air terjun minta diantar sama guide. Spot foto yang menarik adalah di sebuah batu besar di tengah sungai, untuk menuju kesana minta bantuan dituntun guide agar tidak terseret arus karena alirannya deras. Jika setelah turun hujan biasanya airnya keruh berwarna kecokelatan.

deky dan irfan


sesi mendengarkan deky curhat
nduk, fotoin dong!
selfie!
Sekitar sejam dan puas menikmati keindahan curug malela, berfoto, ngobrol bahkan tidur, kami beranjak naik untuk kembali ke penginapan. Ternyata pejalanan balik yang menanjak sangat melelahkan sekali terutama untuk gw dan Nana. Beberapa kali kami berhenti untuk mengatur nafas sambil diberi semangat oleh Pak Ridho dan Irfan. Sampai di atas kami langsung minum es kelapa, beristirahat baru kemudian mengarungi jalanan hancur lagi dengan para ojeker. Setelah bersih-bersih dan beres-beres kami pun checkout menuju Jakarta. Perjalanan lancar namun gagal menemukan warung bebek untuk mengisi perut. Sampai Jakarta jam 6 sore dan gw turun di kebon nanas cikokol Tangerang melanjutkan perjalanan ke rumah dengan angkot. Terima kasih untuk Nana, Pak Ridho, Irfan dan Deky untuk tripnya ke Little Niagara yang indah itu.


 

abang guidenya nimbrung
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar